Ada perasaan aneh setiap kali saya membeli alat tulis baru. Rasanya seperti hidup akan segera lebih teratur. Lebih rapi. Lebih produktif.
Padahal, saya belum menulis satu kata pun.
Mungkin kamu juga pernah mengalaminya. Membeli buku tulis karena sampulnya estetik. Mengoleksi pulpen warna-warni. Sticky notes lucu. Planner minimalis. Semuanya terasa seperti langkah menuju versi diri yang lebih disiplin.
Akan tetapi, beberapa minggu kemudian, buku itu masih bersih. Pulpen masih utuh. Planner masih kosong.
Apakah kamu juga mengalami hal serupa? Oke, kenalin saya Hendy Jobers; seorang Writer-enthusiast. Akhir- akhir ini saya merasa heran karena kenapa ya ketika membeli alat tulis langsung terasa seperti produktif, padahal belum benar-benar mulai menulis?
Ternyata: secara psikologis, ada penjelasan yang cukup masuk akal. Ayo cari tahu!
1. Otak Menyukai “Awal yang Baru”
Dalam psikologi perilaku, ada konsep yang dikenal sebagai fresh start effect. Intinya sederhana: manusia menyukai momen reset.
Tanggal 1 Januari. Hari Senin. Ulang tahun. Awal bulan. Semua terasa seperti kesempatan baru untuk menjadi lebih baik.
Alat tulis baru bekerja dengan cara yang sama. Buku kosong terasa seperti halaman hidup yang belum ternoda kesalahan. Pulpen baru seperti simbol komitmen baru.
Otak manusia membaca ini sebagai: “Ini awal yang bersih.”
Masalahnya, simbol awal baru sering kali terasa sama menyenangkannya dengan benar-benar memulai. Di sinilah ilusi produktif itu.
2. Motion vs Action: Terlihat Produktif, Tapi Belum Menulis.
Dalam buku Atomic Habits, James Clear membedakan dua hal penting: motion dan action.
- Motion adalah aktivitas yang terlihat seperti kerja: merencanakan, menyiapkan, membeli perlengkapan.
- Action adalah tindakan yang menghasilkan output nyata.
Membeli alat tulis? Motion.
Menulis satu halaman? Action.
Motion terasa aman dan menyenangkan. Karena ada perasaan sudah melakukan sesuatu. Sudah bergerak. Sudah “dekat” dengan tujuan. Padahal belum ada satu pun kata yang tertulis.
Itulah kenapa setelah keluar dari toko alat tulis, saya jadi merasa seperti baru saja mengambil langkah besar. Padahal sebenarnya, saya baru saja mempersiapkan kemungkinan untuk melangkah.
3. Dopamin dan Sensasi Progres Semu
Ada satu faktor lagi yang membuat pengalaman ini terasa nyata: dopamin.
Dopamin tidak hanya muncul saat berhasil mencapai sesuatu. Namun, juga muncul saat mengantisipasi pencapaian.
Ketika membeli notebook baru dengan niat akan menulis rutin, otak sudah membayangkan versi diri yang produktif. Versi diri yang disiplin. Versi diri yang konsisten.
Bayangan itu saja sudah cukup untuk memicu rasa puas. Akibatnya, saya merasakan sensasi progres sebelum benar-benar membuat progres. Secara emosional, rasanya seperti sudah mulai. Secara perilaku, sebenarnya saya masih di titik nol.
Lalu, Kenapa Alat Tulisnya Tidak Dipakai?
Ini bagian yang jarang saya akui. Membeli alat tulis itu aman. Menulis itu rentan.
Saat membeli notebook, saya membayangkan tulisan yang rapi dan ide-ide cemerlang. Tetapi ketika benar-benar mulai menulis, yang muncul sering kali adalah kalimat berantakan, ide mentah, dan coretan yang tidak sempurna.
Sebenarnya, saya bukan takut pada alat tulisnya. Sering kali, takut pada hasil tulisan sendiri. Membeli alat tulis memberi simbol disiplin. Hanya saja disiplin bukan benda, melainkan kebiasaan yang dibangun melalui pengulangan, bukan transaksi.
Apakah Hal ini Berbahaya?
Secara umum, tidak.
Menyukai alat tulis adalah hal yang wajar. Mengoleksi benda estetik juga bukan masalah. Bahkan, bagi sebagian orang, hal itu bisa meningkatkan suasana hati dan motivasi.
Nah, yang perlu diwaspadai adalah ketika kebiasaan membeli berubah menjadi penimbunan, atau ketika pengeluaran mulai tidak terkendali. Jika alat tulis terus bertambah sementara tulisan tidak pernah dimulai, mungkin ada pola yang perlu disadari.
Dalam banyak kasus, hal semacam ini bukan soal gangguan. Namun, soal arah energi. Kebanyakan orang terlalu fokus pada persiapan, dan kurang pada eksekusi.
Jadi, Haruskah Berhenti Membeli Alat Tulis?
Tidak juga.
Masalahnya bukan pada alat tulisnya. Masalahnya pada bagaimana cara menggunakannya.
Menariknya, menulis tangan justru bisa menjadi solusi sederhana untuk memutus ilusi produktif ini. Ketika saya benar-benar menulis di atas kertas:
- Saya dipaksa melambat.
- Saya tidak bisa menekan tombol “undo”.
- Saya belajar menerima ketidaksempurnaan.
Menulis tangan membuat saya benar-benar hadir dalam proses. Tidak ada filter. Tidak ada edit instan. Hanya pikiran dan goresan pena.
Di situlah produktivitas yang sesungguhnya mulai terasa. Bukan saat membeli, tetapi saat menggunakan.
Penutup
Alat tulis tidak pernah menjanjikan produktivitas; perasaan produktif yang muncul saat membelinya adalah hasil kerja otak yang menyukai awal baru, persiapan, dan antisipasi keberhasilan. Itu normal. Itu manusiawi.
Pada akhirnya, produktif atau tidaknya tetap bergantung pada satu hal sederhana: apakah saya berani menulis?
Mungkin produktif bukan soal membeli barang baru. Mungkin produktif adalah berani membuka halaman pertama dan menulis, meski belum sempurna.
Kalau kamu merasa meja kerjamu butuh sedikit sentuhan agar lebih rapi dan siap dipakai, kamu bisa melihat koleksi tempat pensil lucu di Easy Bitsy. Bukan untuk menambah koleksi, tetapi untuk membantu menyiapkan ruang yang benar-benar kamu gunakan.
Karena pada akhirnya, yang membuat penulis berkembang bukanlah barangnya; melainkan kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari. Semuanya selalu dimulai dari satu halaman yang benar-benar ditulis.
