Cara menulis novel yang dipaparkan Raditya Dika berikut hadir dari pengalaman panjang seorang penulis yang pernah gagal, diragukan pasar, lalu konsisten membangun pembaca. Sehingga pendekatannya relevan untuk penulis pemula hingga menengah; terutama kamu yang ingin menulis dengan gaya personal dan jujur.
Raditya Dika dikenal sebagai penulis komedi best-seller di Indonesia. Namun, pada awal karirnya, buku-bukunya tidak selalu langsung laku. Bahkan pernah ditegaskan juga bahwa terbit di penerbit mayor bukanlah akhir dari perjuangan. Justru setelah buku terbit, perjuangan berganti judul.
Hai, saya Hendy Jobers. Artikel ini saya susun dari mengutip sebuah wawancara di kanal YouTube yang disponsori oleh sebuah brand, Raditya Dika membagikan prinsip-prinsip menulis novel yang selama ini diterapkannya. Prinsip ini sederhana, aplikatif, dan terbukti bekerja.
Berikut adalah 9 prinsip menulis novel ala Raditya Dika yang bisa langsung kamu praktikkan.
1. Buat Alur Cerita Sejak Awal
Banyak novel berhenti di tengah jalan karena penulis kehilangan arah. Untuk menghindarinya, Raditya Dika menyarankan agar penulis membuat alur cerita terlebih dahulu sebelum mulai menulis.
Saat ide muncul, jangan langsung menulis bab pertama. Susun dulu gambaran besar cerita:
- Awal cerita
- Tengah cerita
- Akhir cerita
Alur ini berfungsi sebagai peta. Dengan peta yang jelas, kamu tidak mudah bosan atau tergoda pindah ke cerita lain. Dengan kata lain, Raditya Dika menyarankan untuk membuat outline atau keranga cerita cerita terlebih dahulu.
2. Tentukan Premis Cerita
Premis adalah ringkasan satu kalimat yang mewakili keseluruhan cerita. Menurut Raditya Dika, premis ideal memuat tiga unsur utama:
Premis membantu penulis menguji kualitas ide. Jika sebuah cerita tidak bisa diringkas dalam satu kalimat yang jelas, kemungkinan besar ceritanya belum fokus.
3. Gunakan Struktur Tiga Babak
Setelah premis jadi, pecah cerita ke dalam struktur tiga babak:
- Babak pertama: pengenalan tokoh dan situasi awal
- Babak kedua: usaha tokoh mencapai tujuan beserta konflik utama
- Babak ketiga: hasil akhir; berhasil atau gagal
4. Bangun Tokoh yang Tidak Sempurna
Tokoh yang menarik selalu memiliki kelemahan. Kelemahan inilah yang membuat cerita bergerak.
Sepanjang cerita, tokoh boleh berkembang, berubah, atau bahkan gagal memperbaiki dirinya. Yang penting, pembaca bisa melihat prosesnya. Tokoh yang terlalu sempurna justru terasa datar dan sulit dipercaya.
5. Gunakan Nama Tokoh yang Sederhana
Raditya Dika menyarankan untuk memilih nama tokoh yang sederhana dan mudah diingat. Nama yang terlalu bombastis sering kali terasa tidak natural.
Nama yang familiar membuat pembaca lebih cepat terhubung dengan karakter dan cerita.
6. Perkuat Kalimat Pertama
Kalimat pertama adalah pintu masuk pembaca ke dalam cerita. Banyak penulis membuka cerita dengan deskripsi suasana, tetapi Raditya Dika menyarankan pendekatan yang lebih langsung.
Mulailah dari:
- Aksi
- Konflik kecil
- Situasi ganjil.
7. Tulis Draft Pertama Tanpa Rasa Takut
Draft pertama memang tidak dibuat untuk sempurna. Fokuslah menyelesaikan cerita, bukan memperindah kalimat.
Setelah draft selesai, barulah lakukan revisi. Jika saat membaca ulang kamu hanya mengubah tanda baca atau diksi kecil, itu tanda naskahmu sudah cukup matang.
Raditya Dika juga menyarankan agar naskah dibaca oleh orang awam, bukan hanya sesama penulis, untuk mendapatkan respons yang lebih jujur.
8. Tunjukkan, Jangan Menjelaskan
Dalam menulis fiksi, hindari menjelaskan perasaan atau keadaan secara langsung. Alih-alih menulis tokoh itu ketakutan, tunjukkan rasa takut melalui tindakan, dialog, atau suasana.
Prinsip show, don’t tell membuat cerita terasa lebih hidup dan tidak menggurui.
9. Menulislah Karena Suka
Motivasi terkuat dalam menulis adalah menyukai apa yang kamu tulis. Jika sejak awal kamu menikmati prosesnya, hasil akhirnya tidak akan terasa sia-sia, apa pun respons pasar.
Menurut Raditya Dika, penulis harus terlebih dahulu menyukai tulisannya sendiri sebelum berharap orang lain menyukainya.
Penutup
Prinsip menulis novel ala Raditya Dika ini bukan teori kosong. Semuanya lahir dari pengalaman langsung seorang penulis yang telah melalui fase gagal, ragu, dan konsisten berkarya hingga menemukan pembacanya.
Bagi kamu yang sedang belajar menulis novel, pendekatan ini bisa menjadi fondasi awal yang kuat. Tidak harus ditiru mentah-mentah, tetapi cukup dijadikan kerangka untuk menemukan gaya menulis sendiri.
Terus menulis, terus belajar, dan biarkan proses membentukmu sebagai penulis.
