Ketentuan yang diterapkan di situs kepenulisan.com dalam tautan berikut: Ketentuan

Ulasan "Melihat Pengarang Tidak Bekerja": Merasakan Hal yang Dirasakan Pengrajin Kata.

Melihat Pengarang Tidak Bekerja, kumpulan esai yang menceritakan pengalaman dan perspektif yang dirasakan para pengarang atau pengrajin kata.

Buku Melihat Pengarang Tidak Bekerja

Ulasan 'Melihat Pengarang Tidak Bekerja' — Kumpulan esai yang dipublikasikan pada tahun 2022 oleh Penerbit Diva Press ini ditulis oleh seorang novelis dan penulis esai bernama Mahfud Ikhwan.

Saya membaca buku ini secara digital lewat aplikasi iPusnas, jam setengah sepuluh malam, dan alasan saya membaca buku di jam tersebut ternyata disinggung juga di dalam bukunya.

Di dalam aplikasi iPusnas, buku bertajuk "Melihat Pengarang Tidak Bekerja" ini dikelompokkan ke dalam 'Kritik Sastra' pada menu 'Kategori Buku'. Dari pengelompokan itulah saya menemukan buku ini dan memilih untuk membacanya.

Setebal 128 halaman, pada laman aplikasi iPusnas, buku ini telah dibaca sebanyak 477 kali, dan mendapatkan 7 ulasan. Perlu diketahui, di antara ulasan tersebut, tidak ada ulasan yang datang dari saya; karena ulasan untuk buku ini … saya sajikan di artikel ini saja.

Sinopsis Singkat dari "Melihat Pengarang Tidak Bekerja"

"Melihat Pengarang Tidak Bekerja" mengandung 12 esai di dalamnya. Di mana, esai yang disajikan berkelindan dengan pengalaman si penulisnya itu sendiri. Buku ini menceritakan tentang seorang penulis yang merasakan sesuatu yang secara khusus hanya dirasakan oleh seorang penulis saja.

Mahfud Ikhwan mengamini bahwa menulis merupakan perbuatan yang baik, dan sebagaimana perbuatan baik itu, selalu saja ada godaan yang berusaha menggagalkan. Begitu pula dengan menulis, selalu ada godaan yang membuat penulis berupaya mencari alasan untuk tidak menulis.

Buku Melihat Pengarang Tidak Bekerja

Kesan Pertama:

Buku ini dimulai dengan sebuah pengenalan si penulis itu sendiri dari masa kecilnya yang payah, tentang gasing dan layangan buatan bapak-nya. Kemudian pengalaman demi pengalaman itu pun akhirnya berujung pada satu kesadaran yang membuat saya terdiam.

Apa yang menjadi ujung dari esai berjudul "Hanya Penulis" adalah fakta untuk saya sendiri. Saya sadari bahwa esai ini sepertinya sedang menyindir saya, dan saya merasa bahwa saya bukan seorang penulis, saya cuma seseorang yang hanya bisa menulis.

Esainya menarik, hanya sebuah pengenalan yang menceritakan pengalaman, tapi menampilkan sisi yang memberikan saya perspektif dari orang lain terhadap diri saya sendiri.

Setelah Membacanya:

Sungguh sangat menyenangkan dapat membaca sebuah buku yang relevan dan related dengan saya sendiri. Bukan karena buku ini ditulis pada masa yang sama, saat saya menjadi pengrajin kata yang tidak bekerja—hampir mirip dengan judulnya.

Melainkan, memang karya tulis 'Melihat Pengarang Tidak Bekerja' ini benar-benar menampilkan banyak nasihat dari sebuah pengalaman seseorang yang sama-sama berkecimpung di dunia saya, dunia kepenulisan. Dengan pengalaman yang lebih banyak, lebih dalam, dan lebih memahami dunia kepenulisan tentunya.

Pengalaman yang dituang di dalam buku ini seperti seorang Bapak yang merangkul anaknya, seolah-olah sedang duduk sembari mengatakan, "Bapak juga pernah merasakan hal yang sama seperti yang kamu rasakan sekarang." 

Seperti seorang ibu yang mau mendengarkan dan memahami perasaan yang sedang kita rasakan sekarang. Perasaan, di mana seorang yang bisa menulis, tapi sedang tidak bekerja, sedang tidak mampu menghasilkan tulisan yang menghasilkan.

Baca Juga: Ulasan Novel Boy Candra - Bu, Tidak Ada Teman Menangis Malam ini.

Esai yang ditulis oleh Mahfud Ikhwan ini, benar-benar mengagumkan. Beliau menceritakan pengalamannya tentang "pekerjaan sebagai penulis yang masih diremehkan orang-orang". Sama seperti saya yang pernah diremehkan dan diragukan karena menjadi seorang laki-laki yang menulis.

Dalam satu esai yang ada di buku ini, sosok Mahfud Ikhwan menceritakan tentang iri yang dirasakannya dengan penulis asal Sumatera. Baginya, penulis asal Sumatera memiliki privilese berbahasa Indonesia daripada penulis asal Jawa. Saya pernah merasakan iri hati seperti itu.

Mahfud Ikhwan pun menceritakan sudut pandang memahami sastra, tentang pola tidur sebagai seorang penulis, dan tentang mood menulis. Cerita-cerita yang dikemas ke dalam esai itu pula yang nantinya akan saya jadikan pedoman jika ada yang menanyakan hal-hal seperti itu kepada saya di kemudian hari.

Konklusi:

Buku ini memberikan saya sebuah perspektif dari alasan mengapa orang Indonesia tidak suka membaca, sebab orang yang membaca akan dianggap hanya leha-leha saja, malas bekerja dan itu tidak baik.

Orang-orang, khususnya tetangga saya sendiri, juga merasa risih jika melihat saya hanya duduk-duduk menikmati waktu sembari membaca buku. Bagi mereka—mungkin—membaca itu lebih baik dilakukan saat waktu luang saja, misalnya saat sedang di perjalanan atau saat berada di angkutan umum.

Buku ini juga menggelitik karena saya juga memiliki banyak alasan untuk tidak menulis, apalagi jika sedang berada di rumah saat akhir pekan.

Itulah mengapa saya memilih membaca buku ini saat dini hari karena hanya di waktu seperti itu lah saya bisa meluangkan waktu; sayangnya … niatan untuk bisa tidur setelah membaca buku "Melihat Pengarang Tidak Bekerja" malah membuat saya memilih untuk menulis ulasan tentang buku ini, segera.

Sebagai informasi yang tidak penting, blog post ini selesai saya tulis pukul tiga dini hari.

Hendy Jobers, seorang Pak RT di grup Facebook kepenulisan: "Ingin Menjadi Penulis. Namun, Enggan Menulis."

Posting Komentar

© Kepenulisan.com. Hak cipta. Developed by Jago Desain