5 Teknik Menulis Novel untuk Pemula agar Konsisten, Produktif, dan Bebas Writer’s Block

Menulis Novel

Bagi banyak penulis pemula, menulis novel akan terasa kurang menyenangkan kalau sudah tidak ada mood menulis. Bukan karena kurang ide, tapi karena terjebak pada satu anggapan: novel harus ditulis dari awal sampai akhir secara berurutan.

Padahal, banyak penulis best-seller dunia justru menyelesaikan novel mereka dengan cara yang jauh lebih fleksibel. Joanna Penn, Susan Dennard, hingga Laini Taylor tidak menunggu mood yang bagus atau inspirasi turun dari langit. 

Penulis-penulis tersebut mengandalkan teknik menulis novel yang praktis, teruji, dan bisa diterapkan siapa saja; termasuk pemula.

Saya sendiri sudah menerapkan teknik-teknik ini selama kurang lebih tiga tahun, dan berhasil menyelesaikan dua naskah novel. Artikel ini menjadi rangkuman pengalaman langsung yang dipadukan dengan riset, agar kamu bisa menulis novel lebih ringan, konsisten, dan realistis.

Menulis Novel tentang Keterampilan, Bukan Bakat

Sebelum masuk ke teknik, satu hal penting perlu diluruskan: menulis novel bukan soal bakat semata, tapi soal keterampilan. Apalagi sekarang sudah ada AI, sehingga, menulis sudah bukan perkara yang rumit.

Kalau kamu:

  • sering terdistraksi
  • merasa mudah writer’s block
  • gak punya waktu menulis 

Jelas, masalahnya hampir pasti bukan pada ide cerita, melainkan cara menulisnya.

Berikut ini lima teknik menulis novel yang paling efektif untuk pemula; saya rangkum, saya jelaskan, dan semuanya sudah saya coba; bahkan untuk menulis artikel ini. Jadi, kamu bisa pilih satu, atau dikombinasikan sesuai gaya menulismu.

1. Teknik Pomodoro: Melatih Fokus Menulis Novel

Teknik Pomodoro merupakan metode kerja berbasis waktu yang memecah aktivitas besar menjadi sesi pendek. Metode ini diciptakan oleh Francesco Cirillo dan terbukti meningkatkan fokus serta produktivitas.

Untuk penulis pemula, Pomodoro sangat ideal karena:

  • menghargai waktu menulis
  • mengatasi distraksi
  • membangun kebiasaan menulis harian

Cara Menerapkan Pomodoro untuk Menulis Novel

  • Tulis selama 25 menit nonstop
  • Istirahat 5 menit
  • Ulangi hingga 4 sesi
  • Ambil istirahat panjang 20–30 menit

Dalam satu hari, empat sesi Pomodoro bisa menghasilkan sekitar 1.500–2.000 kata. Artinya, novel 50.000 kata sangat mungkin selesai dalam waktu tiga bulan; tanpa begadang, tanpa drama.

Kuncinya jelas bukan pada kecepatan, tapi ada pada konsistensi.

2. Freewriting: Tulis Bebas, Cegah Writer’s Block

Jika Pomodoro melatih fokus, freewriting melatih keberanian menulis tanpa takut pada diri sendiri. Teknik ini dipopulerkan oleh Peter Elbow dan sering digunakan untuk:

  • membuka ide yang tersumbat
  • menurunkan standar perfeksionisme
  • dan menghangatkan otak sebelum menulis serius

Cara Kerja Freewriting

  • Set timer 10–15 menit
  • Tulis apa saja hingga waktunya selesain
  • Abaikan tata bahasa dan logika
  • Tak perlu membaca tulisannya, jangan sibuk meng-edit-nya.

Freewriting akan terasa efektif jika kamu sering merasa “tidak tahu harus menulis apa”. Justru dari tulisan yang berantakan inilah, ide cerita, konflik, atau karakter sering muncul secara alami.

Banyak penulis menggunakan teknik freewriting untuk pemanasan sebelum Pomodoro. Saya juga sering menerapkan hal ini ketika sedang menyusun kerangka menulis.

3. Teknik Dikte: Menulis Novel sambil Bicara

Tahukah kamu bahwa manusia bisa berbicara hingga 150 kata per menit, sementara mengetik rata-rata hanya bisa menghasilkan 40 kata per menit? 

Ya, ketika saya mencoba merekam suara sendiri untuk membuktikan, saya bisa menghasilkan 138 kata dengan membicarakan satu topik yang sudah saya susun strukturnya. Sementara untuk paragraf ini saja, saya butuh 3 menit untuk bisa ke bagian ini.

Jadi, itulah alasan mengapa teknik dikte sangat powerful; apalagi sudah ada AI yang bisa langsung mentranskrip suara menjadi teks. Dulu, saya pernah mencoba fitur speech-to-text dari Google. Kalau sekarang, Gemini dan ChatGPT udah keren banget.

Joanna Penn, penulis thriller dengan puluhan novel, menjabarkan pengalamannya di laman Creative Penn, yang bisa menghasilkan 5.000 kata per jam dengan cara mendikte cerita, lalu merevisinya belakangan. Namun, jangan samakan; karena dia juga seorang podcaster

Cara Menerapkan Teknik Dikte untuk Menulis Novel:

  • Siapkan gambaran adegan atau outline
  • Ceritakan adegan itu dengan suara
  • Rekam atau gunakan voice typing
  • Edit hasil transkripnya

Teknik ini akan cocok jika kamu:

  • mampu bercerita secara verbal
  • ingin melatih kemampuan storytelling
  • lebih bebas berbicara daripada menulis

Hasil dikte biasanya lebih natural, dialog terasa hidup, dan alurnya mengalir seperti cerita lisan. Hanya saja, tenggorokan memang jadi lebih cepat kering. 

Saya sangat suka menerapkan teknik dikte ketika sulit menentukan gaya bahasa yang sesuai atau ingin menciptakan dialog.

4. Menulis Non-Linear: Tidak Harus Mulai dari Bab Pertama

Salah satu kesalahan terbesar penulis pemula adalah memaksa diri menulis secara berurutan. Di Facebook, ada banyak orang yang menceritakan pengalaman akan berhentinya cerita yang ditulis bahkan sebelum bab pertama. Padahal, menulis novel tidak harus dimulai dari bab pertama.

Dengan teknik non-linear writing, kamu bebas menulis adegan apa pun yang sedang tergambar jelas di kepala; entah bagian klimaks, dialog emosional, atau adegan akhir. 

Perlu kamu tahu, novel tuh punya struktur alur. 

Menulis novel jadi seperti menyusun puzzle; saya sendiri bahkan ketika menyusun artikel ini, pembahasannya gak runut. Bagian ini saya tulis lebih dulu, tapi malah menempatkannya di poin nomor empat setelah mempertimbangkannya.

5. Menulis Sambil Revisi: Strategi Aman untuk Penulis Perfeksionis

Tidak semua orang cocok dengan prinsip “tulis dulu, edit nanti”. Termasuk saya. Jika kamu tipe penulis yang sulit melanjutkan cerita sebelum puas dengan adegan sebelumnya, menulis sambil revisi bisa menjadi solusi.

Laini Taylor sering menggunakan pendekatan ini; yang menulis perlahan, tapi hasil draft awalnya jadi sangat matang. Tapi kalau kamu pemula, mematangkan draft justru akan melelahkan karena kamu merasa terjebak di bagian yang sama.

Agar tidak terjebak perfeksionisme, revisi harus dibatasi waktu, bukan perasaan.

Teknik Mana yang Paling Cocok untuk Kamu?

Tidak ada teknik menulis novel yang paling benar; yang ada hanyalah teknik yang membuatmu mau kembali menulis. Kamu bisa menggabungkan teknik yang saya paparkan, atau bahkan menciptakan teknik baru?! Tolong ceritakan ke saya jika kamu memang punya. 

Sebagai pemula:

  • Mulailah dari Pomodoro + freewriting
  • Tambahkan non-linear atau dikte jika sudah terbiasa
  • Sesuaikan ritme dengan kesibukan di kehidupan nyata

Menulis novel bukan lomba cepat, tapi perjalanan panjang. Teknik hanyalah alat, yang terpenting adalah rutinitas yang realistis dan berkelanjutan.

Penutup: Novel bisa Selesai karena Komitmen dan Konsisten

Jika kamu ingin benar-benar menyelesaikan novel pertamamu, berhentilah mencari teknik sempurna. Mulailah dari teknik yang paling mudah kamu jalani hari ini.

  1. Set timer 25 menit.
  2. Tulis satu adegan.
  3. Besok ulangi.

Menulis novel tidak hanya perihal motivasi, tapi langkah kecil yang dilakukan terus-menerus. Kamu perlu menemukan teknik yang tepat untuk menyesuaikan dengan aktivitas sendiri. Saya Hendy Jobers, terima kasih telah berada di sini.

Hendy Jobers

Hendy Jobers, seorang Pak RT di grup Facebook kepenulisan: "Ingin Menjadi Penulis. Namun, Enggan Menulis."

Posting Komentar

Mari gunakan kolom komenar di kepenulisan.com untuk diskusi interaktif. Mohon untuk jangan gunakan bahasa yang frontal, vulgar dan kasar.

Lebih baru Lebih lama